Langsung ke konten utama

ALIRAN-ALIRAN YANG BERKEMBANG DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

 ALIRAN-ALIRAN YANG BERKEMBANG DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

( ESSENSIALISME DAN EKSISTENSIALISME )

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji oleh waktu. Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah berasal dari kebudayaan. Essensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Dalam dunia pendidikan, manusia memiliki rasionalitas berpikir untuk memecahkan masalahnya, baik berupa reaksi, aksi maupun keinginan (cita-cita). Esensialisme secara umum menekankan pada pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan hakikat atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas.
Sedangkan Kaum eksistensialis membedakan antara eksistensi dan esensi. Eksistensi berarti keadaan actual yang terjadi dalam ruang dan waktu, eksistensi menunjuk suatu yang ada disini dan sekarang, eksistensi berarti kehidupan yang penuh, tangkas, sadar, tanggung jawab dan berkembang. Sedangkan esensi merupakan suatu yang membedakan suatu benda dengan benda lainnya. Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah.
Eksesistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari  dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Atas dasar pandangan itu, sikap dikalangan kaum eksistensialisme atau penganut aliran ini sering kali nampak aneh dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to. Adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.

B.  Rumusan Masalah

1.    Apa Pengertian Pengertian, Sejarah, dan Tokoh Essensialisme dan Eksistensialisme?
2.    Bagaimana Pandangan Essensialisme dan Eksistensialisme tentang Pendidikan?
3.    Apa  Prinsip-Prinsip Essensialisme dan Eksistensialisme?
4.    Bagaimana Implementasi Eksistensialisme dalam Pendidikan?
5.    Apa Perbandingan Aliran Essensialisme dan Eksistensialisme ?

C.  Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui Apa Pengertian Pengertian, Sejarah, dan Tokoh Essensialisme dan Eksistensialisme
2.      Untuk mengetahui Bagaimana Pandangan Essensialisme dan Eksistensialisme tentang Pendidikan
3.      Untuk mengetahui Prinsip-Prinsip Essensialisme dan Eksistensialisme
4.      Untuk mengetahui Bagaimana Implementasi Eksistensialisme dalam Pendidikan
5.      Untuk mengetahui Perbandingan Aliran Essensialisme dan Eksistensialisme

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Essensialisme

1.    Pengertian, Sejarah, dan Tokoh Essensialisme

Essensialisme berasal dari bahasa latin Essentia, dari Ese (ada). Istilah ini sepadan dengan ousia (bahasa yunani). Esensi adalah apa yang membuat sesuatu menjadi apa adanya, bertolak belakang dengan eksistensi dan aksiden. Esensi mengacu kepada aspek-aspek yang lebih permanen dan mantap dari sesuatu yang berlawanan dengan yang berubah-ubah, parsial, atau fenomenal.[1] Aliran essensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.[2]
Filsafat esensialisme adalah suatu aliran filsafat yang lebih merupakan perpaduan ide filsafat yaitu idealisme - objektif di satu sisi dan realisme - objektif di sisi lainya. Oleh karena itu wajar jika ada yang mengatakan bahwa Plato lah sebagai peletak asas-asas filosofis aliran ini, ataupun Aristoteles dan Democritos sebagai peletak dasar-dasarnya. Kedatipun kemunculan aliran ini di dasari oleh pemikiran filsafat idealisme Plato dan realisme oleh Aristoteles, namun bukan berarti kedua aliran ini lebur ke dalam paham esensialisme.[3]
Brubacher menegaskan, bahwa jiwa dari filsafat pendidikan essensialisme, dapat di telusuri dari kata “essensialisme” itu sendiri. Adanya kegalauan di tengah hingar bingarnya perubahan, beraneka ragam kejadian dan keadaan, seseorang essensialis percaya ada beberapa pokok dari pedoman pendidikan yang bersifat tetap. Dia akan menyadari bahwa banyak nilai pendidikan yang dapat mengendalikan seseorang, tetapi ada pula nilai-nilai yang harus dikendalikannya. Keyakinan demikian, membuatnya mantap dengan pendapatnya, bahwa seorang anak harus mempelajari nilai-nilai itu.[4]
Secara formal, essensialisme memang tidak dapat dihubungkan dengan berbagai tradisi filsafat, namun compatible dengan berbagai pemikiran filsafat. Corak essensialisme dibentuk oleh idealism dan realism dalam bentuk eklektik artinya kedua aliran filsafat ini bertemu sebagai pendukung essensialisme, tetapi tidak lebur menjadi satu atau tidak melepaskan sifat-sifat utama masing-masing.[5]
Essensialisme sebagai sebuah aliran filsafat muncul sejak renaissance, walaupun benih-benihnya telah ada sejak Plato dan Aristoles.[6] Essensialisme muncul pada zaman renaissance, dengan ciri-ciri utamanya yang berbeda dengan progressivisme. Perbedaan ini terutama dalam memberikan dasar berpijak mengenai pendidikan yang penuh fleksibelitas, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Bagi essensialisme, pendidikan yang berpijak pada dasar pandangan itu mudah goyah dan kurang terarah. Karena itu essensialisme memandang bahawa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.[7]
Nilai-nilai yang dapat memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang. Sejak zaman renaissance, sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan essensialisme awal. Sedangkan puncak dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua abad ke-19.[8]
Essensialisme di dasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serta ilmiah dan  materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan tokoh realisme.[9] Aliran essensialisme ini menempatkan cirinya pada alam pemikiran manusia. Pada zaman ini telah muncul upaya-upaya untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan seni serta kebudayaan purbakala, terutama di zaman Yunani dan Romawi. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran ini memiliki ciri utamanya yang menekankan, bahwa pendidikan mesti dibangun di atas nilai-nilai yang kukuh, tetap dan stabil. Kemunculannya adalah reaksi atas kecendrungan kehidupan manusia pada yang serba duniawi, ilimiah, pluralistik, dan materialistik, akibat dari prinsip pendidikan yang fleksibel, terbuka untuk segala bentuk perubahan, toleran serta tidak mempunyai pegangan yang kukuh dengan doktrin tertentu.[10]
Dengan demikian, renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut essensialisme. Essensialisme pertama -tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang memenuhi tututan zaman.[11] Aliran ini beranggapan, bahwa manusia perlu kembali kepada kebudayaan lama, yaitu kebudayaan yang telah ada semenjak peradaban yang pertama. Hal ini mengingat  kebudayaan itu telah banyak membuktikan kebaikan-kebaikannya untuk manusia.[12]
Imam Barnadib menyebutkan beberapa tokoh utama yang berperan dalam penyebaran aliran essensialisme, yaitu:
a.    Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang hidup pada akhir abad 15 dan permulaan abad 16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah dan kaum Aristokrat.
b.    Johann Amos Comenius, yang hidup di seputar tahun 1592-1670, adalah seorang yang memiliki pandangan realis dan dogmatis. Comenius berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
c.    John Locke, tokoh dari inggris yang hidup pada tahun 1632-1704 sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
d.   Johann Henrich Pestalozzi, sebagai seorang tokoh yang berpandangan naturalistis yang hidup pada tahun 1746-1827. Pestalozzi memiliki kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa manusia  juga mempunyai hubungan transendental langsung dengan Tuhan.
e.    Johann Friederich Frobel, 1782-1852 sebagai tokoh yang berpandangan kosmis-sintetis dengan keyakinannya bahwa manusia adalah mahluk ciptaan tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. Terhadap pendidikan, Frobel memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, yang dalam tingkah lakunya akan anampak adanya kualitas metafisis. karenanya tugas pendidikan adalah memimpin anak didik ke arah kesadaran diri sendiri yang murni, selaras dengan fitrah kejadiannya,.
f.     Johann Friederich Harbert, yang hidup pada tahun 1776-1841, sebagai salah seorang murid dari Immanuel Kant yang berpandangan kritis, Harbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari yang Mutlak dalam arti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut proses pencapayan tujuan pendidikan oleh Harbert sebagai pengajaran yang mendidik.
g.    William T. Harris, tokoh dari Amerika Serikat hidup pada tahun 1835-1909. Harris yang pandanganmya dipengaruhi oleh Hegel berusaha menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan baginya adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual. Kedudukan sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun-temurun dan jadi penuntun penyesuaian diri terhadap masyarakat.[13]
Dalam rangka mempertahankan pahamnya itu, tokoh-tokoh essensialisme mendirikan suatu organisai yang bernama ‘Essentialist Committee for the Advancement of Education’ pada tahun 1930. Melalui organisasi inilah pandangan-pandangan essensialisme dikembangkan dalam dunia pendidikan.[14]
Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme menerapkan berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa  berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.[15]

2.  Prinsip-Prinsip Pendidikan Aliran Essensialisme

Prinsip-prinsip pendidikan yang dianut aliran esensialisme adalah sebagai berikut :
a.    Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, karena pendidikan tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa.
b.    Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru bukan pada siswa.
c.    Inisiatif proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan.
d.   Sekolah harus mempertahankan metode-metode trasdisional yang bertautan dengan disiplin mental.
e.    Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntutan demokrasi yang nyata.
f.     Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan metode-metode yang diutamakan dalam proses pendidikan di sekolah.
Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan aliran essensialisme berusaha mengenal potensi peserta didik untuk dikembangkan melalui upaya lembaga pendidikan secara sistemik. Dalam hal ini peserta didik didorong untuk belajar sendiri dengan bimbingan dan arahan guru, sedangkan metode tradisional digunakan sebagai upaya pembentukan mental peserta didik melalui internalisasi nilai-nilai budaya yang telah mengakar di masyarakat di mana sekolah itu berada, dalam arti proses pendidikan beserta pembentukan mental peserta didik tidak terlepas dari budaya yang telah teruji dan terbukti unggul di masyarakat bersangkutan.[16]

3Pandangan Essensialisme tentang Pendidikan

Essensialisme meninjau kebudayaan dan pendidikan yang berbeda dengan progresivisme. Kalau progresivisme berpandangan bahwa bahwa banyak hal mempunyai sifat  yang fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang namun bagi essensialisme dasar berpijak ini kurang tepat. Fleksibelitas dalam segala bentuk menurut essensialisme dapat menimbulkan yang pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Pendidikan yang bersendikan nilai-nilai yang demikian dapat menjadikan pendidikan kehilangan arah.[17]
Pendidikan menurut essensialisme haruslah bersendikan nilai-nilai yang dapat  mendatangkan kestabilan. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut harus diseleksi yang mempunyai tata yang jelas dan yang teruji oleh waktu. Nilai-nilai yang dapat memenuhinya adalah nilai yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakangan ini (renaissance, sebagai pangkal dan berpuncak pada pertengahan kedua abad kesembilan belas).[18]
Essensialisme memberikan penekanan upaya kependidikan dalam hala pengujian ulang materi-materi kurikulum, memberikan perbedaan-perbedaan esensial dan non esensial dalam berbagai program sekolah dan memberikan kembali pengukuhan autoritas pendidik dalam suatu kelas di sekolah. Essensialis percaya bahwa pelaksanaan pendidikan memerlukan modifikasi, dan penyempurnaan sesuai dengan  kondisi manusia yang bersifat dinamis dan selalu berkembang, namun mengingat pengembangan manusia akan selalu berada di bawah azas ketetapan dan natural, maka pendidikan harus dibina atas dasar nilai-nilai yang kukuh dan tahan lama agar memberikan penjelasan an kestabilan arah bangunannya. [19]
Pendidikan yang bersifat fleksibel dan terbuka untuk perubahan,  toleran, dan tidak berhubungan dengan doktrin dan norma yang universal menjadikan eksistensinya mudah goyah dan tidak memilki arah yang jelas.oleh karena itu, pendidikan mesti didasarkan pada azas-azas yang kukuh secara nyata telah teruji kebenaran dan ketangguhannya  dalam perjalanan sejarah.[20]
a.    Pandangan tentang Belajar
Essensialisme berupaya kembali kepada psikologi pendidikan tentang pola dan cara manusia dalam proses peraihan pengetahuan melalui aktivitas belajar untuk merumusakan hakikat belajar. Bagi essensialisme belajar adalah melatih daya jiwa yang secara potensial sudah ada seperti daya fikir, daya ingat, dan daya rasa. Belajar merupakan proses penyesuaian diri individu dengan lingkungan dalam pola stimulus dan respon. Tugas guru dalam hal ini adalah sebagai agen untuk memperkuat pembentukan kebiasaan dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan. Belajar harus didasarkan pada disiplin dan kerja keras karena tujuan belajar adalah agar subjek didik mengerti berbagai realita, nilai-nilai, dan kebenaran, baik sebagai warisan sosial maupun makrokosmis. Pengenalan warisan masa lampau tersebut menurut Brakley dan Finey dijadikan sebagai dasar interpretasi bagi realitas yang ada sekarang.[21]
Pandangan-pandangan realisme mencerminkan ada dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas. Pertama, determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya. Jadi, harus ada yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti dengan penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Kedua, determinisme terbatas, yang memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Kendati pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan penguasaan terhadap semua hal, namun kemapuan akan pengawasan tetap saja diperlukan.[22]
bPandangan tentang Guru
Para essensialis percaya bahwa proses belajar adalah proses penyesuaian individu dengan lingkungan dengan pola stimulus dan respons. Dalam hal ini tugas guru adalah sebagai agen untuk memperkuat pembentukan kebiasaan dalam rangka  penyesuaian dengan lingkungan tersebut. Berdasarkan konsep ini, para essensialis sangat yakin, bahwa belajar mesti didasarkan pada disiplin dan kerja keras yang ketat. Hal ini disebabkan karena belajar akan berlangsung baik dengan adanya dedikasi tinggi untuk meraih tujuan yang lebih tinggi.[23]
Essensialis berkeyakinan, bahwa inisiatif pendidikan tergantung sepenuhnya pada guru, bukan pada subjek didik. Oleh kerena itu, guru mesti mengambil peranan yang paling besar untuk mengatur dan mengarahkan subjek didik ke arah kedewasaan. Sedemikian besarnya tanggung jawab dan peranan guru, maka guru mesti dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menyokong kompetensinya dalam menjalankan tugas.[24]
Para essesnsialis sepakat dengan progresivisme bahwa belajar tidak akan sukses tanpa didasarkan pada berbagai kapasitas, intres, dan tujuan subjek belajar, namun essensialisme yakin semuanya itu harus melalui kemampuan dan keterampilan guru, baik dalam merencanakan, mengorganissi subjek-subjek materi, maupun dalam memahami proses pengembangan pendidikan. Dengan demikian, essensialisme sangat menekankan aspek guru dalam setiap aktivitas belajar di sekolah. Hanya guru yang berkualitas yang akan melahirkan subjek didik yang berkualitas.[25]
c. Pandangan tentang Peserta Didik
Peran peserta didik adalah belajar, bukan untuk mengatur pelajaran. Menurut idealisme belajar, yaitu menyesuaikan diri pada kebaikan dan kebenaran seperti yang telah ditetapkan oleh yang absolut. Sedangkan menurut realisme belajar berarti penyesuaian diri terhadap masyarakat dan alam. Belajar berarti menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angktan berikutnya. Dengan demikian kaum esensialisme mengakui bahwa siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan fakta & keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berfikir.[26]
c. Pandangan tentang Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum ini hendaknya berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan inilah kegiatan ini dilakukan. Kurikulum menurut Herman Harrel Horne, hendaknya bersendikan atas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal, dan cita-cita masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini, kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.[27]
Menurut Bogoslousky, kurikulum dapat diibaratkan sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, yaitu:
1)   Universum, pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Diantaranya adalah adanya kekuatan alam, asal usul tata surya dan lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
2)   Sivilisasi, karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup  masyarakat. Dengan sivilisasi, manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengajar kebutuhan, serta hidup aman dan sejahtera.
3)   Kebudayaan, merupakan karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesusastraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
4)   Kepribadian, pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaknya diusahakan agar faktor-faktor fisik,  fisiologi, emosional an intelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.[28]
Robert Ulich berpendapat bahwa  meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak, fleksibilitas tidak tetap diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Untuk itu, perlu diadakan perencanaan dengan kesekamaan dan kepastian.[29]
Kurikulum dalam pandangan essensialisme adalah kurikulum yang kaya, bertingkat dan sistematis yang didasarkan pada suatu kesatuan yang tidak terjabarkan lagi, pada sikap yang berlaku pada suatu kebudayaan demokratis.[30] Kurikulum sekolah bagi essensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran, dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangnnya, kurikulum essensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealism, realism, dan sebagainya.[31]
Dengan demikian, diharapkan peran sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai  dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat. Fungsi utama sekolah menurut essensialisme adalah untuk membina tempat referensi bagi anak didik dalam menghadapi ilmu pengetahuan dan tradisi yang telah berkembang sedemikian rupa. Sekolah tinggal merealisasikannya, mengadakan seleksi dan menentukan mana yang sebenarnya baik, wajar dan benar untuk dipelajari anak didik.[32]
dPandangan tentang Metode
Metode yang paling cocok untuk mencapai tujuan umum essensialisme dalam membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat adalah metode tradisional yaitu mental discipline method, suatu metode yang menggunakan pendekatan psikologi pendidikan yang mengutamakan latihan-latihan berfikir logis, teratur, ajek, sistematis, menyeluruh menuju latihan penarikan kesimpulan yang baik dan komprehensif.[33]

BEksistensialisme

1.    Pengertian, Sejarah, dan Tokoh Eksistensialisme

Istilah eksistensi diambil dari bahasa inggris Existence; Latin existeri artinya muncul, ada, timbul, memiliki keberadaan actual. Eksistensi berasal dari kata ex (keluar) dan sistere (tampil muncul).[34] Dalam sumber lain disebutkan sistere berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran senmacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein. Da berarti di sana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti di sana, di tempat. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadara kan tempatnya. Ia sadar bahwa ia menempati. Dengan demikian, manusia sadar akan dirinya sendiri.[35]
Berangkat dari sini eksistensi mengandung arti apa yang ada, apa yang memiliki arti aktualitas apa yang ada (ada), segala sesuatu (apa saja) yang dialami. Jadi eksistensi menekankan sesuatu itu pada adanya, berbeda dengan esensi yang menekankan kepada sesuatu (apa sebenarnya sesuatu itu sesuai dengan kodrat inherennya).[36]
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang melukiskan dan mendiagnosa kedudukan manusia yang sulit. Titik sentralnya adalah manusia. Menurut eksistensialisme, hakikat manusia terletak dalam eksistensi dan aktivitasnya. Aktivitas manusia merupakan eksistensi dari dirinya dan hasil aktivitas yang dilakukan merupakan cermin hakikat dirinya. Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian besar reaksi terhada beberapa sifat dari filsafat tradisional pada masyarakat modern. Dengan demikian eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.[37]
Aliran ini termasuk kelompok filsafat modern yang dimunculkan oleh Damis Soren Kaerkegaard. Ia memberikan pengertian tentang eksistensialisme sebagai suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian, aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi sejarah dan dialami manusia. Aliran ini tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya, serta kemampuan dan keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Atas dasar pandangan tersebut, sikap di kalangan kaum eksistensialisme sering kali nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to do adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap sdan perbuatannya. [38]
Kaum eksistensialis membedakan antara eksistensi dan esensi. Eksistensi berarti keadaan actual yuang terjadi dalam ruang dan waktu, eksistensi menunjuk suatu yang ada disini dan sekarang, eksistensi berarti kehidupan yang penuh, tangkas, sadar, tanggung jawab dan berkembang. Sedangkan esensi merupakan suatu yang membedakan suatu benda dengan benda lainnya. [39]
Esensilah yang menjadikan benda seperti apa adanya. Atas dasar inilah seseorang dapat saja berkata tentang esensi tanpa ada wujud bendanya pada suatu waktu dan ruang tententu. Karakteristik pokok filsafat eksistensialisme memfokuskan reflexi pemikirannya pada dunia dalam manusia sehingga terbuka pernik-pernik keunikannya. Eksistensialisme meyakini, bahwa manusia memiliki kesadaran bahwa ia ada, keberadaannya yang ada ditengah-tengan keberadaan benda-benda lain. Kendatipun demikian, cara berada manusia berbeda dengan benda-benda lain diluar dirinya. Dalam filsafat eksistensialisme, manusia yang sadar adalah manusia yang dapat meragukan sesuatu, yang dapat melakukan aktivitas berfikir untuk dirinya, alam, dan apa saja yang tercakup dalam realitas.[40]
Ada beberapa macam pendapat terkait dengan eksistensialisme, antara lain:
a.    Eksistensialisme adalah sebuah gerakan filsafat yang menentang essensialisme.
b.    Eksistensialisme adalah filsafat yang memandang segala gejala berawal dari eksistensi.
c.    Eksistensi bukanlah objek dari berfikir abstrak (pengalaman kognitif atau akal fikiran) tetapi merupakan eksistensi atau pengalaman langsung, bersifat pribadi dan dalam batin individu. Dalam hal ini ditegaskan bahwa eksistensi mendahului esensi.[41]
Eksistensialisme bagi Kierkgaard adalah suatu penolakan terhadap pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksisitensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian eksistensalisme ingin memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang dialami serta tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnta abstrak dan spekulatif. Baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dalam diri dan kemampuan serta keluasan jalan unutk mencapai keyakinan hidupnya.[42]
Menurut sejarah istilah eksistensialisme pertama kali dirumuskan oleh ahli filsafat jerman yaitu Martin Heidegger. (1889-1976). Namun akar metodologi eksistensi ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmun Husserl (1859-1938). Eksistensialisme sebagai suatu aliran filsafat muncul dari dua filosof yaitu Soeran Kiergaard dan Neitzche. Kiergaard sesorang filsafat jerman (1813-1855) filsafatnya ingin menjawab pertanyaan mengenai “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu?” Dia juga menerima Socrates yang mengatakan bahwa “Pengetahuan akan diri adalah pengetahuan akan Tuhan”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensialisme (manusia melupakan individualitasnya), sehingga manusia bisa menjadi manusia yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, komitmen pribadi dalam kehidupan.[43]
Neitzche, juga filsuf Jerman (1844-1900) yang tujuan filsafatnya menjawab “Bagaimana menjadi manusia unggul?”. Bagi Neitzche jawabannya adalah manusia bisa menjadi manusia unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani. Kedua tokoh ini muncul karena adanya perang dunia pertama dan situasi eropa pada saat itu sehinngga mereka tampil untuk menjawab pandanngan tentang manusia.[44]
Disamping itu munculnya filsafat eksistensialisme adalah ini adalaha reaksi terhadap filsafat materialism marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatau yang premir dan idealism hegel yang bertolak bahwa eksisensi manusia sebagai yang konkrit dan subjektif karna mereka hanya memandang manusia menurut materi atau ide dalam rumusan dan system-sistem umum (kolektifitas social). Pngaruh lahirnya filsafat eksistensialisme berasal dari filsafat hidup Bergson dan Metafisika Modren. Filsafat ini muncul pada paruh pertengahan abad ke -20. [45]
Terdapat beberapa tokoh eksistensialisme diantaranya adalah Soren Kierkegaard (1813-1855)[46] dianggap sebagai sumber utama filsafat eksistensialisme.[47]Menurutnya manusia harus merealissasikan eksistensinya dengan mengikat diri secara bebas dan mempraktekkan keyakinannya serta mengisi kemerdekaannya. Hanya dengan percaya manusia dapat melewati hidup ini yang kesangsian dan ketakutan menemukan dirinya dihadapan Tuhan.[48] Tokoh lainnya yaitu Jean Paul Sartre (1905-1980)[49] yang menjadikan aliran ini populer dan bahkan menjadi rujukan dan simbol eksistensialisme. Eksistensialisme dan Jean Paul Sartre seolah-olah menyatu, karena memang puncak eksistensialisme itu ada padanya. Tokoh lain yang disebut sebagai eksistensialis adalah Gabriel Marcel (1889-1973). Dan di Jerman dikembangkan oleh Karl Jaspers (1883-1989)[50] dan Heidegger.[51]
Ciri-ciri dasar eksistensialisme yaitu:
a.    Tujuan eksistensialisme adalah mencoba menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya manusia hidup setelah ilusi tentang kebebasannya hancur berantakan karena malapetaka yang begitu banyaj dalam sejarah. Di samping itu eksistensialisme juga ingin melawan pandangan-pandangan yang menempatkan manusia pada tingkat impersonal (abstrak). Eksistensialisme bereaksi terhadap rasionalisme Zaman pencerahan, filsafat Jerman, Kantianisme, dan Positivism yang menyerbar luas pada akhir abad ini.
b.    Motif pokonya adalah eksistensi yakni cara  manusia berada. Menurut mereka hanya manusialah yang bereksistensi karena eksistensi merupakan cara khas manusia berada. Pusat perhatian ada pada manusia, karena itu bersifat humanistik.
c.    Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti berbuat, menjadi, berencanakan. Bagi mereka setiap saat manusia menjdi lebih atau kurang dari keadaanya.
d.   Di dalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang secara terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, terutama pada sesama manusia.
e.    Filsafat eksistensialisme memberikan tekanan konkret, pengalaman eksistensial.[52]
Menurut A.Angeles tema pokok atau karakteristik utama eksistensialisme, diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu:
a.    Eksistensi mendahului esensi.
b.    Kebenaran itu subjektif.
c.    Alam tidak menyediakan aturan moral. Pinsip-orinsip moral dikontruksi oleh manusia dalam konteks bertanggungjawab atas perbuatan mereka dan perbuatan selainnya.
d.   Perbuatan individu tidak dapat diprediksi.
e.    Individu mempunyai kebebasan berkehendak secara sempurna.
f.     Individu tidak dapat membantu melainkan sekedar membuat pilihan.
g.    Individu dapat secara sempurna menjadi selain daripada keberadaannya.[53]



2.    Prinsip-Prinsip Eksistensialisme

Adapun prinsip-prinsip eksistensialisme yaitu:
a.       Aliran ini tidak mementingkan metafisika (Tuhan).
b.      Kebenaran lebih bersifat eksistensial dari proporsioanal atau faktual.
c.       Aliran ini memandang individu dala keadaan tunggal selama hidupnya dan individu hanya mengenal dirinya dalam interaksi dirinya sendiri dengan kehidupan.
d.      Aliran ini tidak mementingkan jawaban-jawaban pasti terhadap masalah-masalah filsafat yang penting.
e.        Jiwa aliran ini mengutamakan manusia, memperkembangkan eksistensi pribadinya atas alasan bahwa manusia akan mati.[54]

3.    Pandangan Eksistensialisme tentang Pendidikan

Sebagai sebuah aliran filsafat, eksistensialisme mempunyai pandangan  tentang pendidikan, antara lain:
a.    Pandangan tentang Pengetahuan
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatau pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung kepada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas, pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkan pribadi anak berkembang untuik menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.

b.      Pandangan tentang Nilai
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan suatu cita-cita dal;am dirinya sendiri, melaikan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara plihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang ia harus capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.
c.       Pendidikan menurut Pandangan Eksistensialisme
Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, Skun Pribadi (1971) mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan. Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “ keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
d.      Pandangan tentang Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki  kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pmenuhan dirinya, sehinnga dalam menetukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.
e.       Pandangan tentang Kurikulum
Kaum eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan  kepekaan personal yang disebut Greene “ kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberikan para siswa kebeasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada suatu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Mata ppelajaran yang dapat memenuhi tuntutan di atas adalah mata pelajaran IPA, Sejarah, Sastra, Filsafat dan Seni. Bagi beberapa anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun bagi yang lainnya mungkin saja bisa Sejarah, Filsafat, Sastra, dan sebagainya.
Dengan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut, siswa akan berkenalan dengan pandangan dan wawasan para penulis dan pemikir termasyhur, memahami hakikat manusia di dunia, memahami kebenaran dan kesalahan, kekuasaan, konflik, penderitaan, dan mati. Kesemuanya itu merupakan tema-tema yang akan melibatkan siswa baik intelektual maupun emosional. Sebagai contoh kaum eksistensialisme melihat sejarah sebagai suatu perjuangan manusia mecapai kebebasan. Siswa harus melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kepribadian yang sedang dipelajarinya.
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan , serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan. Eksistensialisme menolak apa yang diseebut penonton teori. Oleh karena itu, sekolah harus mencoba membawa siswa kedalam hidup yang sebenarnya.
f.       Pandangan tentang Proses Belajar Mengajar
Menurut Kneller (1971), konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog” . dialog mrupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Menurut Buber kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa menyerah kepada kehendak guru, atau kepada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya. Selanjutnya Buber mengemukakan bahwa, guru hendaknya tidak boleh disamakan dengan seorang intrukstur. Jika guru disamakan dengan intrukstur maka ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi pelajaran dan siswa. Seandainya hanya dianggap sebagai alat untuk mentrasfer penetahuan, dan siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut.
Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan prosuk dari pengetahuan tersebut. Dalam proses belajar mengajar tersebut, pengetahua tidak di limpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan anrtara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetauan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tudak merupakan suatu yang diberikan kepada siswa yang tidak dikuasainya, melaikan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.
g.      Pandangan tentang Peranan Guru
Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak bermakna apa-apa, dan alam semesta berlainan dengan situasi yang manusia temukan sendiri di alamnya. Kendatipun demikian dengan kebebasan yang kita miliki, masing-masing dari kita harus commit sendiri pada penentuan makna bagi kehidupan kita. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Maxine Greene (Parkay 1998), seorang filosof pendidikan terkenal yang karyanya di dasarkan pada eksistensialisme “kita harus mengetahui kehidupan kita, menjelaskan situasi-situasi kita jika kita memahami dunia dari sudut pendirian bersama”. Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam mengangkat pencarian pribadi akan makna merupakan proses edukatif. Sekalipun begitu, para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka.
Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yan mereka suka. Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam sebuah dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang di miliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untk memilih alternative, sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia.
 Lebih dari itu, siswa harus menjadi faktor dalam sebuah drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya.guru harus mampu membimbing dan mngarahkan siswa dengan seksama sehinggga siswa mampu berpikir relative dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak memberi intruksi guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa meiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.[55]

4.    Implementasi Eksistensialisme dalam Pendidikan

a.       Aliaran ini mengutamakan perorangan/individu. Dalam dataran pendidikan, aliran ini menuntut adanya sistem pendidikan yang beraneka warna dan berbeda-beda, baik metode pengajarannya maupun penyusunan keahlian-keahlian.
b.      Aliaran filsafat ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya. Dalam hal ini, individu hanya mengenal dirinya dalam interaksi sendiri dengan kehidupan.
c.       Aliran filsafat ini percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya. Karena itu, murid berkewajiban untuk melakukan eksperimen dan pembahsan utnuk memungkinkannya ikut secara nyata dalam setiap kedudukan yang di hadapinya, atau dalam setiap masalah yang hendak dipecahkannya.
d.      Aliran ini tidak membatasi murid dengan buku-buku yang ditetapkan saja. Sebab, hal ini membatasi kemampuan murid untuk mengenal pandangan lain yang bermacam-macam dan berbeda-beda.[56]

C. Perbandingan Aliran Essensialisme dan Eksistensialisme

Aliran Essensialisme dan Eksistensialisme merupakan aliran yang saling bertolak belakang. Yang mana  kaum essensialis berpandangan bahwa konsep dan gagasan praktek pendidikan yang lebih mementingkan dasar nilai-nilai moral yang diambil dari budaya yang telah digunakan selama berabad-abad di masyarakat. Artinya, substansi pendidikan harus berakar pada budaya yang ada di masyarakat di mana lembaga pendidikan itu berada. Oleh karena itu, penggunaan metode pendidikan harus benar-benar dikuasai guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Metode tradisional dianggap paling cocok, karena telah terbukti mampu mewariskan nilai-nilai budaya lokal secara turun temurun. Sifatnya tradisional tetapi telah teruji keberhasilannya. Selain itu, untuk mengendalikan agar peserta didik tidak diberi kebebasan tanpa batas, kaum essensialis mengemukakan pandangannya bahwa sekolah harus mampu menjadi pengendali (kontrol) terhadap proses pendidikan, sehingga pencapaian tujuan sesuai dengan apa yang diinginkan.[57]
Semantara Eksistensialisme adalah cara melihat dan berpikir tentang kehidupan di dunia sehingga lebih memprioritaskan pada individualisme dan subjektivitas. Kaum eksistensialis percaya bahwa manusia adalah pencipta esensinya sendiri; ia menciptakan nilai sendiri melalui kebebasan memilih atau preferensi individual. Pengetahuan yang paling penting bagi manusia adalah pengetahuannya tentang realitas kehidupan berikut pilihan-pilihan hidup yang harus ia ambil. Pendidikan adalah proses manusia dalam mengembangkan kesadaran akan kebebasan memilih dan makna serta tanggung jawab. Eksistensialisme memandang Pendidikan harus menumbuhkan intensitas kesadaran peserta didik. Mereka harus belajar untuk mengakui bahwa sebagai individu mereka secara terus-menerus, bebas, tanpa dasar, dan kreatif menentukan kebebasannya untuk memilih. Pendidikan harus peduli dengan pengalaman yang efektif, dengan unsur-unsur pengalaman yang subjektif dan personal. Tujuan pendidikan tidak dapat ditentukan di muka ataupun dipaksakan oleh guru melalui sistem sekolah. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menentukan pendidikannya sendiri.[58]
Dari paparan di atas dapat kita lihat perbedaan atau perbandingan antara aliran essensialisme dan eksistensialime. Perbandingan dari sisi positif dan negatif antara kedua aliran tersebut yaitu:
a.    Aliran Essensialisme
1)   Sisi Positif
a)    Menurut aliran ini suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT.
b)   Memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
c)    Pendidikan berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
d)   Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan..
e)    Essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
2.    Sisi Negatif
a)    Menurut esensialis, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
b)   Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda.Misalnya beberapa pemikir esensial memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.

b.   Aliran Eksistensialisme
1)   Sisi Positif
a)    Mengerti akan semua realitas.
b)   Mengetahui pengetahuan tentang manusia.
c)    Menekankan bahwa individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
d)   Memberi semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam usaha pendidikan.
2)   Sisi Negatif
a)    Eksistensialisme berkonsentrasi dalam masalah terkait individu dan kebanggaan diri sebagai manusia yang merupakan eksistensi permanen, ideologi yang lebih mengedepankan eksistensi individu ketimbang eksistensi masyarakat.
b)   Eksistensialisme menolak norma-norma, nilai-nilai terpuji, kebaikan, keadilan dan tanggung jawab serta berdiri di puncak egoism.
c)    Ideologi ini terlalu memberikan kebebasan terhadap masing-masing individu yang berakibat menganggu kebebasan orang lain, tidak mau menyatu satu sama lain (gaya hidup hedonis).
d)   Eksistensialisme mengingkari semua nilai-nilai budaya..
e)    Eksistensialisme adalah cara melihat dan berpikir tentang kehidupan di dunia sehingga lebih memprioritaskan pada individualisme dan subjektivitas.
f)    Mengabaikan Perintah Tuhan.
g)   Menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia
h)   Sangat  tidak puas  dengan sistem filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan.


BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Essensialisme menghendaki agar landasan pendidikan berakar dari nilai-nilai yang esensial, yaitu yang telah teruji oleh waktu, bersifat menuntun dan telah turun temurun dari zaman ke zaman, dengan mengambil zaman renaisanse sebagai permulaan. Pandangan essensialisme dalam pendidikan Islam dianggap sesuai karena tujuan umum paham essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Isi pendidikanya ditetapkan berdasarkan kepentingan efektifitas pembinaan kepribadian yang mencakup ilmu pengetahuan yang harus dikuasai dalam kehidupan dan mampu menggerakan keinginan manusia.
Aliran eksistensialisme pada hakikatnya merupakan aliran fisafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya. Pandangan eksistensialisme dalam pendidikan Islam, dapat dikatakan kurang sesuai, karena eksistensialisme pada hakikatnya mengadakan penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah, sekalipun ajaran Islam menghargai hasil pemikiran dan rasional, namun pemikiran abstrak tetap diterima karena tidak semuanya harus didasarkan pada hal-hal konkrit.

B.  Kritik dan Saran

Semoga dengan adanya makalah ini para pembaca dan kami selaku pemateri, mendapatkan manfaatnya. Dan apabila terdapat kekhilafan dan kekurangan dalam penulisan atau penyajian makalah ini kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini lebih bermanfaat di masa yang akan datang.




DAFTAR REFERENSI

Abas, Erjati. 2015. Asas Filosofi Teori Belajar Essensialisme dan Implikasinya Dalam Pendidikandalam Jurnal LENTERA STKIP-PGRI Bandar Lampung, Vol. 2, 2015.
As Said, Muhammad. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. YogyakartaMitra Pustaka.
 Assegaf, Abd. Rachman. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hartoko, Dick. 2002. Kamus Populer Filsafat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Jalaluddin. Abdullah Idi. 2012. Filsafat Pendidikan: Manusia. Filsafat. dan Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Muhmidahyeli. 2011. Filsafat Pendidika. Bandung: PT Refika Aditama.
Murtaufiq, Sudarto.  2014.  Telaah Kritis Aliran-Aliran Flsafat Pendidikan, dalam Jurnal Akademika, Vol. 8, No. 2, Desember 2014.
Nurhayati. 2013. Filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru: Benteng Media.
Ramayulis dan Samsul Nizar. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.  Bandung: PT  Remaja Rosdakarya.
Yunus, H.a. 2016. Telaah Aliran Pendidikan Progresivisme dan Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan, dalam Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016.
Zuhairini. Dkk. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.











[1] Nurhayati, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekanbaru: Benteng Media, 2002), hlm. 54.
[2]Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 95.
[3] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama, 2011), hlm. 166.
[4] Muhammad As Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2011), hlm. 73.
[5] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 54.
[6] Ibid.
[7] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:  Bumi Aksara, 2012), hlm. 25
[8] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Op.Cit, hlm. 95.
[9] Zuhairini, dkk, Op.Cit, hlm. 25.
[10] Muhmidayeli, Op.Cit. Hlm 167.
[11] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Op.Cit,hlm. 95-96.
[12] Muhmidayeli, Op.Cit. Hlm 167.
[13] Zuhairini, dkk, Op.Cit, hlm. 25-26.
[14] Ibid, hlm. 27.
[15] Ibid.
[16] Yunus, H.a. 2016. Telaah Aliran Pendidikan Progresivisme dan Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan, dalam Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016, hlm. 37.
[17] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 56.
[18] Ibid, hlm. 56-57
[19] Muhmidayeli, Op.Cit. hlm 169-170.
[20] Ibid.
[21] Ibid, hlm. 170.
[22] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Op.Cit, hlm. 104.
[23] Muhmidayeli, Op.Cit. hlm. 171.
[24] Ibid.
[25] Ibid.
[26] Abas, Erjati. 2015. Asas Filosofi Teori Belajar Essensialisme dan Implikasinya Dalam Pendidikandalam Jurnal LENTERA STKIP-PGRI Bandar Lampung, Vol. 22015. Hlm. 116-117.
[27] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Op.Cit, hlm. 104-105.
[28] Ibid. hlm. 105.
[29] Ibid. hlm. 105-106.
[30] Muhmidayeli, Op.Cit. hlm. 171.
[31] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 58.
[32] Ibid.
[33] Ibid.
[34] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 59.
[35] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rusda Karya, 2003), hlm. 218.
[36] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 59.
[37] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Kalam Muila: Jakarta, 2009), hlm. 28-29.
[38] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit hlm. 29.
[39] Muhmidayeli, Op.Cit, hlm. 137.
[40] Ibid, hlm. 137-138.
[41] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 59.
[42] Ibid, hlm. 59-60.
[43] Ibid, hlm. 60.
[44] Ibid, hlm. 60-61.
[45] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 60-61.
[46] Pengaruh Kierkegaard belum tampak ketika ia masih hidup, bahkan bertahun-tahun namanya tidak dikenal orang di luar negerinya. Itu antara lain karyanya di tulis dalam bahasa Denmark. Bermula pada akhir abad ke-19 karya-karyanya Kierkegaard mulai diterjemahkaan ke dalam bahasa Jerman. Karyanya menjadi sumber yang penting sekali untuk filsafat abad ke-20, yang disebut eksistensialisme. Karena sering disebut bahwa Kierkegaard adalah bapak filsafat eksistensialisme. Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rusda Karya, 2003), hlm. 223.
[47] Muhmidayeli, Op.Cit, hlm. 138.
[48] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). hlm. 25.
[49] Pada tanggal 15 April 1980 dunia filsafat dikagetkan berita meninggalnya seorang Jean Paul Sartre lahir di Paris pada tahun 1905 dan meninggal pada tahun 1980. Ia belajar pada Ecole Normale Superieur pada tahun 1924-1928. Setelah tamat dari sekolah itu pada tahun 1929 ia mengajarkan filsafat di beberapa Lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Dari tahun 1933 sampai tahun 1935 ia menjadi mahasiswa peneliti pada institute Francais di Berlin dan di Universitas Freiburg. Pada tahun 1938 terbit novelnya yang berjudul La Nausee, dan Le Mur terbit pada tahun 1939. Sejak itu muncullah karya-karya yang lain dalam bidang filsafat. Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rusda Karya, 2003), hlm. 223-224.
[50] Muhmidayeli, Op.Cit, hlm. 138.
[51] Dick Hartoko, Op.Cit, hlm. 25.
[52] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 61.
[53] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 131.
[54] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit hlm. 30.
[55] Nurhayati, Op.Cit, hlm. 62-66.
[56] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit, hlm. 31.
[57] Murtaufiq, Sudarto.  2014.  Telaah Kritis Aliran-Aliran Flsafat Pendidikan, dalam Jurnal Akademika, Vol. 8, No. 2, Desember 2014, hlm. 201-202.
[58] Yunus, H.a. 2016. Telaah Aliran Pendidikan Progresivisme dan Esensialisme Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan, dalam Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016, hlm.38.

Komentar